Pages

Friday, February 10, 2012

Bu N dan Alumni 28

Di akhir postingan gue tadi pagi, gue bilang bahwa besok (Sabtu, 11/02/2012) gue bakal jadi juri lomba TLUB (Tata Laksana Upacara Bendera) di SMAN 28 Jakarta. Sore ini, gue dikabarin Ranny, LO Juri yang juga merupakan Humas Paskibra 28 (Yep, penerus gue :)) bahwa gue batal jadi juri. Kenapa? Karena Kepala SMAN 28 yaitu Ibu N tidak setuju dengan adanya alumni (atau mungkin maksudnya alumnus) yang terlibat dengan acara ini.

Gue pribadi memaklumi dan sama sekali ga protes ke Ranny karena percuma juga kalo gue protes ke Rannya, toh dia ga bisa ngapa-ngapain. Lagipula awalnya kan gue diminta jadi juri, kalo akhirnya gue diminta untuk gajadi juri ya masa mau protes? hahahaha.

Gue sempet ngetweet
"Barusan ditelfon , besok gajadi ngejuri TLUB karena Bu Kepsek ga setuju ada alumni (alumnus). Semoga sukses ya TLUBnya :D"
dan dapet respon yg cukup 'meriah' dari temen-temen yang lain. Bahkan ada yang sampe bbm gue nanya tentang keadaan sekolah saat ini.

Cukup menarik rasanya untuk mencaritahu apa sebenernya yang melatarbelakangi kebijakan ini. Di bulan puasa kemaren, emang ada musibah yang menimpa SMAN 28 (dan tentunya menimpa Bu Kepsek yang saat itu masih sangat baru menjabat) dan acara tersebut melibatkan alumni (tentu kita semua tau musibah tersebut). Meskipun alumni hanya jadi 'tamu' di acara tersebut, Sekolah menetapkan kebijakan yaitu tidak boleh ada acara Buka Puasa Bersama di luar sekolah. Perlu diketahui, tiap tahun, hampir setiap (hmm kalo boleh dibilang) organisasi yang diurus oleh siswa SMAN 28 membuat acara Buka Puasa Bersama yang umumnya mengundang alumni organisasi tersebut. Organisasi yang gue maksud adalah MPK, OSIS, organisasi kerohanian (tentunya Rohani Islam), dan berbagai ekstrakurikuler. Gue sangat memaklumi kebijakan ini, sekolah tentu masih trauma dengan kejadian sebelumnya. Umumnya buka puasa bersama diadakan di luar sekolah yaitu di rumah salah satu siswa, sebab acara tersebut biasanya menjadi ajang silaturahim antarsiswa, antaralumnus, dan antara siswa dan alumni, sehingga kadang acara baru selesai di atas jam delapan malam (dan di sekolah akan sangat sulit membuat acara hingga di atas jam delapan). Padahal, ketika dilakukan di rumah siswa pun, tentu ada orang tua yang ngawasin kan?

Kegiatan di ekskur gue yaitu Paskibra 28 emang banyak ngelibatin alumni, bahkan mungkin adalah salah satu ekskur yang paling sering ngelibatin alumni selain URaL 28 dan KPPF 28. Tiap pelantikan dan berbagai acara, ga jarang kita minta bantuan dari alumni. Sayangnya, bentuk pendidikan kita emang cukup keras terutama dalam hal adu argumen. Mungkin inilah yang dilihat ibu N sebagai bentuk bullying. Gue bisa memaklumi kalau di Perkemahan Gabungan kemaren alumni ga boleh dateng (meskipun biasanya emang hanya alumni URaL 28 yang dateng) karena di situ memang rawan dengan betuk pendidikan/pelatihan yang dianggap sebagai bullying. Oiya, gue ga bilang (dah ga menganggap) ini sebagai bullying, dan gue sendiri memang kurang ahli masalah bullying, jadi mohon maaf kalo gue dan lo yang baca ini tidak sepaham masalah bullying.

Ketika sempet mau diadain Pengukuhan Unit Kesenian 28 di akhir tahun lalu, gue yang diundang sebagai wakil dari alumni Vocal Group diminta untuk bawa ijazah dan KTM gue. Menurut gue sih bagus, karena ini mencegah adanya pihak selain alumni 28 yang seenaknya masuk ke 28. Tapi di sisi lain, ini juga berarti ada unsur ketidakpercayaan sekolah baik terhadap panitia (siswa/siswi 28) maupun terhadap alumni yang diundang. Pas beberapa waktu lalu gue diundang ke Pelantikan Siswa Paskibra 28 pun gue dan alumni lain diminta bawa ijazah dan KTM juga. Tapi kedua acara tersebut akhirnya batal dengan berbagai alasan (yang sebaiknya dugaan gue ga dibeberin di sini daripada menimbulkan prasangka).

Balik lagi ke TLUB. Agak mengherankan sebenernya kenapa alumni ga boleh terlibat sebagai juri. Juri di sini perannya kan untuk menilai, apa yang ditakutkan? Apa beliau khawatir gue menilai mereka sambil bentak-bentak "Hei, bisa baris yang bener nggak sih dek?!"? Atau beliau khawatir gue membawa segerombolan alumni lain dan menyuruh junior untuk ngumpul terus kami bully? Selama tiga tahun terlibat di TLUB 28 (sebagai peserta, sebagai pelatih plus panitia, dan sebagai juri) gue ga pernah melihat ada indikasi bullying, apalagi oleh juri yang merupakan alumnus 28. Coba liat sisi positifnya, mereka yang udah pernah jadi juri tahun sebelumnya mungkin bisa melihat perbandingan dari tahun ke tahun sebagai evaluasi untuk tahun mendatang dari sisi yang lebih objektif, sebab panitia dari ekskur Paskibra 28 biasanya juga menjadi pelatih di kelas sehingga mungkin ada unsur subjektivitas dalam melihat performa peserta. Menurut gue harusnya beliau coba tanya ke guru yang taun lalu juga jadi juri, dari tiga orang alumni yang dateng buat jadi juri (tahun lalu ada tiga alumni, tahun ini cuma gue juri alumninya), apakah mereka melakukan suatu tindakan yang bisa disebut bullying? TLUB kan sifatnya lomba, bukan bentuk pendidikan, pelatihan, training, atau semacamnya. Lantas apa yang dikhawatirkan? Lagipula sekolah juga bisa membuat tindakan preventif lain kan dalam mencegah bullying?

Ketika ditelfon Ranny, gue sempet nanya apakah tetep boleh hadir sebagai tamu, bukan juri. Ranny agak bingung ngejawabnya dan langsung gue samber dengan pengurungan niat gue untuk hadir, daripada ekskur ini dianggap membangkang. Udah dibilang ga boleh ngelibatin alumni, masih aja ngedatengin. Mbuandel.

Ah, lagi-lagi gue terlalu banyak mengeluh. Lebih baik kita doain semoga bu N bisa lebih bijak lagi dalam memandang dan menempatkan alumni sebagai orang yang pernah ada di 28. Gue sendiri sangat berharap TLUB taun ini sukses, dalam hal pelaksanaan maupun pencapaian tujuannya. Tiap tahun gue melihat TLUB sebagai sarana untuk menunjukkan bahwa baris-berbaris adalah suatu hal yang bisa jadi sangat sangat sangat menyenangkan, seperti yang gue rasakan sampai saat ini. Dan semoga Paskibra 28 bisa ngebina hubungan yang baik dengan pihak sekolah, terutama pembina dan kepala sekolah. Tentunya gue juga mendoakan agar pihak sekolah bisa bekerja sama dengan ekskur Paskibra 28 yang akhir-akhir ini sering mereka permasalahkan.

Oiya, buat yang belum tau, bu N yang jadi kepsek itu adalah alumnus 28 juga loh! Ironic?

Salam Paskibra. Merdeka.


No comments:

Post a Comment